‘Senses’: Album Spektakuler Pembuka Tahun Oleh Scaller

scaller-album-cover-jpeg_orig
scallermusic.com

Tahun 2017 dibuka dengan spektakuler oleh Scaller. Duo alternative rock asal Jakarta ini baru saja merilis album terbarunya yang bertajuk Senses. Stella Gareth (Vocal) dan Rene Karamoy (Gitar) sepertinya tidak mau menunggu terlalu lama untuk kelahiran “anak keduanya” ini. Album bernuansa rock segar, degan gitar tebal ini sepertinya akan meneruskan jejak kesusksesan debut album pendek mereka sebelumnya 1991 yang nyaris tanpa cacat untuk sebuah album perdana.

Rasanya gegap gempita perayaan tahun baru baru berakhir semalam, Scaller langsung tancap gas dengan merilis album baru berjudul yang berjudul ‘Senses’. Tentunya ini menjadi kado manis buat para penggemar mereka. Sejak debut album pendeknya ‘1991’ dirilis ke permukaan tiga tahun lalu, puja-puji tentang kepiawaian band ini tak kunjung surut.

Awalnya mungkin agak susah untuk langsung bisa menikmati musik-musik Scaller, gue pun setelah beberapa kali nonton mereka akhirnya ikutan suka. Terakhir nonton di Synchronize Fest, Kemayoran. Meskipun hanya bertiga, dengan additional drummer dan tanpa bass. Tapi musiknya tetap bisa dinikmati, tidak berisik dan enak buat mengangguk-anggukan kepala.

Album ini berisi sembilan lagu yang keseluruhannya berbahasa Inggris. Di buka dengan “The Alarm” ditutup dengan “Dawn Is Coming”. Dengan durasi lagu antara tiga sampai empat menit, lagu-lagu di album ini masih nyaman untuk diikuti. Album ini seperti representasi dari rutinitas sehari-hari yang dimulai dari pagi hingga sore.

  “A Song” percaya sama gue, begitu lo denger lagu ini tanpa sadar tangan lo pasti sok-sok ikutan kayak lagi nge-drum. “The Youth” sudah sepatutnya ada di bilik-bilik karaoke, lagunya enak banget buat membentuk paduan suara. “Upheaval”  aduhai mak, melodi di awal lagu ini cathcy abis. Sisanya terserah bagaimana lo menggambarkannya.

Untuk saat ini Senses baru bisa dinikmati via layanan musik streaming. Di antaranya Spotify, iTunes, Apple Music dan Deezer. Untuk mendapatkan CD-nya lo bisa memesan  di sini.

Singkatnya, album ini sepenuhnya membuat gue optimis akan kemuculan album-album bagus berikutnya di tahun ini.

Ada Amin?

Tepasalira

electronic-1858956_640
Image/lorenzocafaro/pixabay

Di minggu terakhir di tahun 2016 gue kepikiran untuk bikin blog (lagi). Iya, bikin lagi. Ini udah ketiga kalinya, setelah yang sebelum-sebelumnya gagal. Bikin-nulis-hiatus-hapus-bikin lagi-nulis-hiatus-hapus lagi. Susah rasanya untuk konsisten.

Ide awalnya sederhana, gue pengin punya tempat untuk menuliskan semua kejadian-kejadian yang ada dan gue alami sepanjang tahun. Juga untuk mendokumentasikan album-album bagus dan gigs/konser yang gue hadiri. Semacam asrip daring pribadi.

“Lo mau nulis tentang apaan?”

Apa aja. gado-gado. campuran. random. sebisanya. seketemunya.

“Tepasalira apa artinya”?

Harusnya penulisan yang bener itu dipisah tepa salira, yang berati tenggang rasa atau sikap menghormati satu sama lain. Kalau dalam bahasa Jawa itu tepo seliro. Lucunya banyak temen gue yang baru denger kata ini.

Cukup sekian tulisan pembuka untuk blog ini, semoga gue bisa konsisten.

Terima kasih.